| Sumber:dokumentasi pribadi |
Pada blog ini saya akan memberikan sedikit gambaran perkuliahan Magister IKA di IPB University. Sedikit saja ya—karena kalau terlalu banyak nanti keliatan semua kegalauan saya waktu semester dua. Waktu itu saya mendapat beasiswa dari Kemendikbud lewat skema pelaku budaya, Beasiswa Pendidikan Indonesia. Secara pembiayaan, sama dengan LPDP. Jadi alhamdulillah selama kuliah saya tidak terlalu memikirkan biaya… tinggal memikirkan hidup, tugas, anak, suami, dosen, PPT, jurnal, dan eksistensi diri. Selebihnya santai.
Saat ini saya sudah mendirikan daycare dan sedang berencana membuat PAUD inklusi. Ini bukti bahwa S2 itu tidak hanya melahirkan tesis, tapi juga bisnis, idealisme, dan kantong mata.
Perkuliahan berlangsung dua tahun alias empat semester. Total SKS sekitar 39—angka yang tampak kecil di kertas, namun di hati terasa seperti 390. Tingkat kesulitan saya kategorikan: sedang. Kalau dibandingkan dengan S1 Kesehatan Masyarakat Unair, ya… ini seperti level “normal tapi kok hidup berasa hard mode”. Buktinya emak-emak bisa lulus cumlaude dan termasuk tiga lulusan tercepat. Kesimpulan: bukan kami yang terlalu jenius, tapi hidup memaksa kami efisien. Kalau bisa selesai hari ini, ngapain ditunda—toh besok sudah ada masalah baru.
Kunci bertahan di pascasarjana sederhana: ujian di S2 itu bukan hafalan, tapi analisis. Jadi kalau ada yang tanya, “Apa yang kamu hafal selama S2?” Jawabannya jujur saja: nama anak dan tanggal jatuh tempo beasiswa. Kalau sistemnya hafalan murni, mungkin saya baru lulus empat tahun lagi, itu pun dengan air mata dan minyak kayu putih.
Semester satu dan dua termasuk padat. Kuliah dari Senin sampai Jumat, kadang cuma libur sehari—itu pun biasanya untuk menyesali keputusan hidup. Kuliah dijadwalkan dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Tapi jangan bayangkan kita duduk penuh seperti pegawai shift pabrik. Misalnya Senin kuliah jam 9–11, nanti lanjut lagi jam 1–3. Kadang sehari cuma masuk pagi saja, kadang hanya siang saja, kadang hanya masuk grup WhatsApp tapi tidak masuk akal.
Tugas? Banyak. Sangat banyak. Kalau tugas itu manusia, mungkin sudah bisa membentuk RT sendiri. Ada tugas individu, tugas kelompok, tugas yang katanya ringan tapi tiba-tiba berkembang biak. Saking banyaknya tugas, mahasiswa dipaksa membaca. Mau tidak mau, yang awalnya cuma kenal jurnal lewat nama, lama-lama jadi hubungan serius, bahkan lebih intens daripada chat dengan pasangan.
Dosen? Alhamdulillah relatif baik dan sabar. Tidak ada yang aneh-aneh. Satu hal yang unik—semua dosen S2 IKA perempuan. Jadi suasananya hangat, terstruktur, dan penuh tugas. Soal desas-desus perang dingin antardosen, ya namanya juga manusia. Tapi di depan mahasiswa semuanya elegan dan profesional. Kami mahasiswa cuma bisa mengangguk sambil berkata dalam hati: “Yang penting nilai aman, Bu.”
Satu hal yang harus dicatat dengan stabilo warna warni: semua dosen hobi memberi tugas. Tiada hari tanpa tugas. Kalau ada hari tanpa tugas, itu berarti kamu belum buka laman LMS atau grup WhatsApp. Namun percayalah—asal kamu rajin dan punya stok keberanian menghadapi deadline, semua bisa diselesaikan. Rumusnya: kopi + niat + sedikit drama = selesai.
Tips keemasan lainnya: jangan lupa menjalin hubungan baik dengan tenaga kependidikan, pegawai administrasi, bahkan OB. Mereka itu pahlawan tak terlihat. Mereka tahu di mana berkas tercecer, kapan tanda tangan turun, dan tentu saja… gosip terbaru. Mahasiswa butuh tiga hal: jurnal, jaringan internet, dan kabar-kabar yang tidak ada di web resmi fakultas.
Apalagi bagi yang sudah menikah. Urusan administrasi sudah seperti drama seri panjang. Surat ini kurang stempel, yang itu kurang tanda tangan, yang satu harus difotokopi tiga rangkap. Rasanya seperti Tuhan sedang menguji kesabaran, sementara mesin fotokopi menguji keimanan. Ditambah lagi saya lanjut S2 setelah sepuluh tahun lulus S1, jadi tubuh ini sempat kaget: “Kamu yakin mau begadang lagi?”
Soal teman kuliah, izinkan saya berbagi petuah gaya warung kopi. Jangan terlalu menonjol di depan teman, tapi menonjollah saat perkuliahan. Percaya deh—kalau kamu terlalu bersinar di luar kelas, nanti dikira satelit. Lingkungan pascasarjana itu unik. Ada yang terlalu percaya diri, ada yang terlalu sensitif, ada yang seperti main sinetron dalam batinnya sendiri. Kita nikmati saja sebagai bahan penelitian kualitatif berjalan.
Intinya: jaga diri, jaga lisan, jaga nilai. Target utama adalah lulus tepat waktu dan segera mengamalkan ilmu—bukan pamer status mahasiswa S2 selama lima tahun. Nah, sekarang bagian yang sering ditanyakan orang: bagaimana rasanya kuliah S2 sambil mengurus anak dan suami?
Jawabannya: seperti lomba lari sambil bawa galon. Lucu dilihat orang lain, berat dirasakan pelakunya. Pernah suatu malam saya mengerjakan tugas, laptop terbuka, jurnal berjejer, mood akademik sudah siap. Tiba-tiba anak datang sambil berkata, “Bun, besok aku disuruh bawa kertas memo warna warni ke sekolah.” Sementara suami bertanya dari dapur, “Gula di mana?” Saat itu saya sadar: manajemen waktu adalah mata kuliah tanpa SKS tapi wajib lulus.
Ada momen ketika saya ingin menulis bab tinjauan pustaka, tapi malah meninjau cucian. Ada saat saya membaca teori perkembangan anak, sementara anak saya berguling seperti dinamo. Di titik itu saya tertawa sendiri. Ternyata skripsi, tesis, dan rumah tangga punya kesamaan: kalau ditunda, sama-sama menumpuk.
Namun di balik ngos-ngosan itu, ada rasa bangga yang tidak bisa diterjemahkan ke angka IPK. Bisa bertahan. Bisa selesai. Bisa membuktikan bahwa emak-emak tidak hanya kuat membawa belanjaan, tapi juga kuat membawa beban SKS.
Kuliah S2 juga mengajarkan satu hal penting: standar kebahagiaan mahasiswa pascasarjana itu sederhana. Bukan liburan ke Eropa. Bukan tas branded. Tapi kalimat dosen yang mengatakan, “Silakan revisinya sedikit saja.” Rasanya seperti mendengar malaikat menyanyikan lullaby. Dan tentu saja, saya tidak akan lupa pada momen sidang tesis. Jantung berdegup, telapak tangan dingin, wajah tetap tersenyum sok kalem. Di dalam hati doa sederhana: “Ya Allah, semoga penguji lupa pertanyaan.” Tapi ternyata tidak lupa. Untungnya saya juga tidak lupa belajar.
Sekarang setelah lulus, saya melihat ke belakang dengan senyum: ternyata semua lelah itu tidak sia-sia. Ilmu IKA tidak berhenti di ruang kelas. Ia hidup di daycare yang saya dirikan, ia bergerak dalam rencana PAUD inklusi yang sedang saya bangun. Ia hadir ketika saya bertemu orang tua, anak, guru—dan ketika saya menghadapi drama kecil kehidupan yang tidak pernah absen.
Jadi, bagi kamu yang sedang mempertimbangkan kuliah Magister IKA, pesan saya sederhana:
Siapkan tekad. Siapkan waktu. Siapkan tempat khusus untuk menyimpan tugas—dan tisu untuk menyeka air mata jurnal.
Dan jangan lupa satu hal: kalau merasa ngos-ngosan, bukan berarti kamu lemah. Bisa jadi kamu memang sedang berlari lebih jauh daripada orang lain.



